GREEN LEADERSHIP, SAMARINDA— Kalimantan Timur (Kaltim) berdiri di persimpangan jalan antara kekayaan alam yang melimpah dan ancaman kehancuran ekologis yang mendesak. Sementara Kaltim membanggakan dirinya sebagai salah satu provinsi dengan tutupan hutan terluas di Indonesia, data dan peringatan bencana justru menunjukkan narasi yang kontradiktif dan mengkhawatirkan.
Kontroversi di Balik Klaim Luas Hutan
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, dalam wawancara pada November 2025, menekankan bahwa luasan hutan Kaltim masih mencapai kurang lebih 8,5 juta hektare. Gubernur melihat hutan sebagai nilai ekonomis dan daya penggerak ekonomi, meskipun mengakui adanya perlambatan kegiatan sektor kehutanan akibat harga kayu yang menurun.
Data resmi Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kaltim tahun 2021 memang mencatat Kaltim memiliki hutan seluas 8,256 juta hektare, mencakup 65% luas wilayah, terbagi dalam hutan produksi, lindung, dan konservasi. Secara angka, Kaltim tampak kokoh.
Realitas Pahit: Deforestasi Tertinggi dan Bencana Nyata
Namun, angka yang luas itu hanyalah ilusi yang terancam. Di balik klaim tersebut, Kaltim memegang predikat suram: tingkat deforestasi tertinggi di Indonesia. Laporan Auriga Nusantara menyebutkan deforestasi di Kaltim mencapai lebih dari 44.483 hektare pada tahun 2024 saja. Angka ini dipastikan akan terus merangkak naik seiring masifnya ekspansi pertambangan batu bara (termasuk tambang liar), pengembangan perumahan, dan perkebunan kelapa sawit.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, mengeluarkan peringatan keras yang tidak dapat diabaikan. Merujuk pada tragedi banjir bandang di Sumatera yang merenggut lebih dari 900 korban jiwa, ia menegaskan bahwa kerusakan hutan telah memberikan dampak nyata melalui frekuensi bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat.
“Kerusakan hutan yang terus terjadi sudah memberikan dampak nyata kepada masyarakat, terutama melalui bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi,” ujar Seno Aji usai memantau simulasi tanggap darurat bencana di Balikpapan (8/12/2025).
Pengecaman KIN: Keuntungan Hutan Dibayar dengan Bencana
Menanggapi situasi ini, RRN Natawijaya dari Komite Investigasi Negara (KIN) Kaltim turut mengecam keras pengerusakan lingkungan. Konsentrasi tambang batu bara, yang diperparah oleh keberadaan tambang-tambang liar yang luput dari pengawasan, menjadi sorotan utama dalam laju deforestasi yang tak terkendali.
Kaltim tengah merampas keuntungannya sendiri dari hutan. Klaim kekayaan hutan yang luas tidak akan berarti apa-apa jika ancaman deforestasi terus ditekan, menukarkan potensi ekonomi jangka pendek dengan bencana ekologis dan krisis kemanusiaan yang akan menjadi warisan permanen bagi generasi mendatang.(Rizky N)
KALTROFI: Ancaman Deforestasi Kaltim Mencengkeram, Bencana Mengintai di Balik Klaim Hutan Terluas

