GREENLEADERSHIP – Bogor – Di bawah terik matahari Cikaret, Bogor Selatan, seorang pria dengan kaus oranye dan bot karet kuning tampak kontras di antara tumpukan sampah. Tangannya yang menggenggam golok tak berhenti mengais lumpur, mengangkat plastik, popok bayi, hingga limbah rumah tangga yang menyumbat aliran air.
Di atasnya, hiruk-pikuk kendaraan berlalu lalang. Sebagian pengendara hanya menoleh sekilas, sebagian membunyikan klakson sebagai sapaan, namun tak sedikit yang acuh. Bagi Dede Sukria (37), keriuhan kota itu adalah latar belakang dari sunyinya sebuah pengabdian yang telah ia jalani selama satu dekade.Bergerak Tanpa Seragam, Mengabdi Tanpa Upah
Sejak tahun 2015, Dede melakoni peran yang tidak ada dalam struktur birokrasi mana pun. Ia bukan petugas resmi kebersihan, bukan pula anggota ormas lingkungan yang terafiliasi. Ia bergerak murni atas kegelisahan melihat selokan yang seharusnya menjadi jalur air, justru berubah menjadi sarang penyakit dan pemicu banjir.
Saya sudah hampir 10 tahun, dari 2015 itu bergerak sendiri,” ujar Dede saat berbincang dengan R. Rizky Noor Natawijaya dari Green Leadership Kaltim, Rabu (7/1/2026).
Tanpa komando, Dede turun ke selokan membawa peralatan seadanya. Ia memunguti sampah satu per satu, memasukkannya ke karung, dan memastikan air kembali mengalir.
Modal Sendiri: Bensin dan Motor Pribadi
Kisah Dede adalah potret pengorbanan yang nyata. Pada masa-masa awal, ia harus mengangkut puluhan karung sampah menggunakan sepeda motor pribadinya.
“Dulu kalau dapat 40 karung, saya angkut sendiri dari ujung ke depan pakai motor.

Pulang bisa sampai jam 6 sore,” kenangnya. Tak hanya tenaga, Dede bahkan merogoh kocek pribadi untuk membeli bensin motor yang ia gunakan demi memindahkan sampah-sampah tersebut ke tempat pembuangan.
Namun, keteguhannya mulai membuahkan hasil. Kini, Dede mulai mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor melalui koordinasi dengan pihak PU sebagai relawan.
Alhamdulillah, sekarang baru dua hari masuk relawan PU. Jadi sampah yang saya kumpulkan sudah bisa diangkut pakai truk dinas,” katanya dengan nada lega.
Monitoring Mandiri dan Target Meluas
Cara kerja Dede terbilang unik.
Tanpa jadwal resmi, ia mengandalkan intuisi dan observasi pribadi. Dalam sehari, ia mampu menyisir tiga hingga empat titik selokan yang dianggapnya paling kritis.
“Sehari bisa 3-4 titik. Saya monitoring sendiri, cari lagi sebelah mana yang mampet, pindah-pindah tempat,” jelas pria yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kebersihan air ini.
Kini, semangat Dede tidak lagi terbatas di wilayah Cikaret.
Ia memiliki ambisi besar untuk memastikan saluran air di seluruh Kota Bogor bebas dari sumbatan sampah.
“Insya Allah, sekarang saya mulai meluas ke wilayah Kota Bogor lainnya,” tutupnya optimis.
Sosok Dede Sukria adalah pengingat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari satu orang, satu pasang sepatu bot, dan satu tekad untuk tidak membiarkan lingkungan rusak oleh ketidakpedulian.(R. Rizky N)

