GREEN LEADERSHIP, SANGASANGA – Pencarian intensif terhadap Rizky Tri Handoko (39), karyawan PT Astiku Sakti yang hilang di perairan Sungai Mahakam sejak Senin (5/1/2026) malam, akhirnya membuahkan hasil. Namun, kabar duka menyelimuti keluarga dan kerabat setelah korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Kamis (8/1/2026).
Jasad korban ditemukan oleh warga sekitar mengambang di alur anak sungai kecil di wilayah Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga. Lokasi penemuan ini berada sekitar 14 kilometer ke arah hilir dari titik awal kecelakaan (Last Known Position/LKP).
Kronologi Penemuan dan Evakuasi
Setelah menerima laporan masyarakat, Tim SAR Gabungan segera bergerak menuju lokasi untuk mengevakuasi jasad.
Berdasarkan keterangan langsung yang diterima Green Leadership dari Tim SAR di lapangan, proses evakuasi dilakukan dengan tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat medan yang cukup berisiko.
Koordinator Lapangan (Korlap) BPBD Kutai Kartanegara, Eko Suryawinata, mengonfirmasi kebenaran titik penemuan tersebut.
Kami mendapat laporan dari warga mengenai penemuan jasad sekitar 14 kilometer dari lokasi awal kejadian. Setelah dievakuasi, dipastikan jasad tersebut adalah korban yang dicari,” jelas Eko.
Sesuai permintaan pihak keluarga, jasad almarhum Rizky langsung dibawa ke RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda untuk proses visum sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.
Penyebab Kecelakaan: Kendala Teknis di Jalur Kapal Besar
Insiden maut ini bermula pada Senin malam sekitar pukul 19.30 WITA. Saat itu, empat orang karyawan PT Astiku Sakti sedang dalam perjalanan pulang kerja menggunakan perahu ces (ketinting).
Informasi terbaru menyebutkan bahwa perahu sempat mengalami kendala teknis di tengah sungai. Dalam kondisi mesin yang bermasalah, perahu diduga memaksakan diri menyeberangi alur hingga akhirnya terlibat tabrakan dengan sebuah kapal tug boat. Tiga rekan korban berhasil menyelamatkan diri, sementara Rizky hilang terseret arus.Tantangan Medan dan Ancaman Binatang Buas
Selama tiga hari operasi, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, BPBD, KSOP, serta relawan menghadapi risiko tinggi. Selain arus Sungai Mahakam yang deras, ancaman binatang buas seperti buaya di wilayah Pendingin menjadi tantangan nyata bagi para penyelamat di lapangan.
Dengan ditemukannya korban, operasi SAR secara resmi dinyatakan ditutup. Pihak berwenang mengimbau seluruh pengguna transportasi sungai untuk selalu memastikan kelayakan armada dan menggunakan alat keselamatan, terutama saat melintasi jalur lalu lintas kapal besar di Sungai Mahakam.
(R. Rizky N)

